Skripsi Gelar S.Pd.I

BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah
Secara sederhana pendidikan Islam dapat diartikan sebagai pendidikan yang didasarkan pada nilai-nilai ajaran Islam, sebagaimana yang tercantum dalam al-Qur’an dan al-Hadits. Berbagai komponen dalam pendidikan mulai dari tujuan, kurikulum, guru, metode, pola hubungan guru murid, evaluasi, sarana dan prasarana, lingkungan, dan evaluasi pendidikan harus didasarkan pada nilai-nilai ajaran Islam.
Berdasarkan komponen tersebut diatas, terdapat komponen dalam pendidikan yaitu evaluasi dalam pengajaran yang bertujuan untuk mengetahui prestasi hasil belajar, sehingga dapat menetapkan keputusan apakah bahan pelajaran diulang ataukah dilanjutkan guna terwujudnya prestasi belajar.
Firman Allah swt yang berbunyi :

( الحشر : 18)
Artinya : ”Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat), dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan”.(Q.S al-Hasyr : 18)

Ayat tersebut diatas menjelaskan bahwa setiap mu’min hendaknya apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok, menurut M. Quraish Shihab dalam tafsir Al-Misbah disebutkan bahwa perintah memperhatikan apa yang telah diperbuat untuk hari esok, dipahami oleh Thabathaba’i sebagai perintah untuk melakukan evaluasi terhadap amal-amal yang telah dilakukan. Ini seperti seorang tukang yang telah menyelesaikan pekerjaannya. Ia dituntut untuk memperhatikannya kembali agar menyempurnakannya bila telah baik, atau memperbaikinya bila masih ada kekurangan, sehingga jika saatnya diperiksa, tidak ada lagi kekurangan dan barang tersebut tampil sempurna.
Dengan adanya komponen evaluasi maka didapatkannya hasil belajar, yang mana hasil belajar tersebut merupakan perubahan sikap, pengetahuan siswa selama proses belajar mengajar. Maksudnya adalah perubahan yang diperoleh siswa setelah proses belajar mengajar.
Dalam pendidikan Islam juga menyebutkan bahwa setiap pelajaran penuh ada hikmah dan pelajaran yang baik, sehinga setiap apa yang diperoleh akan lebih baik manfaatnya, sebagaimana tercantum dalam firman Allah swt, sebagai berikut :

(النحل :125 )

Artinya : ” Serulah (manusia) kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya Tuhanmu Dialah yang lebih mengetahui tentang siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan Dialah yang lebih mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk.” (QS. An-Nahl : 125)

Ayat tersebut menjelaskan bahwa setiap manusia diseru untuk memberikan pengajaran dengan hikmah dan baik, dalam artian menurut penulis setiap komponen dalam mempelajari pendidikan mesti memiliki komponen dalam pendidikan sebagaimana tersebut diatas.
Mengenai hal tersebut juga, penulis juga mengkaitkan dengan firman Allah swt, sebagai berikut :

(الجمعة : 2)

Artinya : Dia-lah yang mengutus kepada kaum yang buta huruf seorang Rasul di antara mereka, yang membacakan ayat-ayat-Nya kepada mereka, mensucikan mereka dan mengajarkan kepada mereka Kitab dan Hikmah (As Sunnah). Dan sesungguhnya mereka sebelumnya benar-benar dalam kesesatan yang nyata. (Qs. al-Jumu’ah : 2)

Ayat tersebut penulis memahami, bahwasanya nilai-nilai pendidikan yang mempunyai komponen terutama pendidikan diajarkan dalam Islam dimulai sejak mengenal huruf sampai mengajarkannya kembali kepada peserta didiknya, sehingga nilai-nilai pendidikan Islam tersebut memberikan kepada setiap orang anak yang belum tahu menjadi tahu.
Dalam sebuah hadis juga penulis kaitkan, yang berbunyi :
حَقُّ الْوَالِدُ عَلىَ وَالِدِهِ أَنْ يُّحْسَنُ اسْمَهُ وَأَدَابَهُ وَعَلَّمَهُ الْكِتَابَةَ وَالسَّبَاحَةَ وَالرِّمَايَةَ وَأَنْ لاَّ يَرْزُقُهُ إِلاَّ طَيِّبًا وَأَنْ يُّزَوِّجَهُ إِذَا أَدْرَكَ (رواه حاكم)
Artinya : ”Kewajiban orang tua kepada anaknya adalah memberi nama yang baik, mendidik (sopan santun), mengajari tulis baca, renang dan lempar panah, memberi rizki yang baik dan mengawininya jika mendapat jodoh.” (HR. Hakim).

Dua firman Allah swt dan hadis tersebut diatas, dapat dikaitkan kepada komponen-komponen yang dapat mendukung pendidikan, terutama dalam setiap setiap metode pengajaran, sementara dalam proses pendidikan ada yang disebut guru dan murid. Murid adalah Objek, sementara guru adalah subyek, dimana guru menuangkan segala kemampuannya untuk mengembangkan pengetahuan murid. Guru mempunyai peranan yang sangat penting dalam pendidikan diantaranya, guru sebagai ahli dimana guru mengetahui lebih banyak mengenai berbagai hal dari pada siswanya, guru sebagai pengawas, guru sebagai penghubung kemasyarakatan, guru sebagai pendorong atau fasilitator.
Tugas dan peranan guru dalam proses pendidikan juga sebagai pendidik profesional yang sesungguhnya sangat kompleks, tidak terbatas pada saat berlangsungnya interaksi edukatif di dalam kelas, yang lazim disebut proses belajar mengajar. Proses belajar mengajar merupakan inti dari kegiatan pendidikan di sekolah, agar tujuan pendidikan dan pengajaran berjalan dengan benar, maka perlu adanya pengembangan dalam kegiatan belajar mengajar terutama dibidang kurikulum.
Dalam Islam tugas seorang guru merupakan tugas yang sangat mulia karena guru dipandang sebagai seorang yang memiliki ilmu pengetahuan yang lebih tinggi. Dengan adanya ilmu pengetahuan. Hal ini sesuai dengan firman Allah SWT :

(المجادلة : 11)

Artinya : “Hai orang-orang yang beriman, apabila dikatakan kepadamu: “Berlapang-lapanglah dalam majelis”, maka lapangkanlah, niscaya Allah akan memberi kelapangan untukmu. Dan apabila dikatakan: “Berdirilah kamu, maka berdirilah, niscaya Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat. Dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan”.
(Q.S al-Mujadilah : 11)

Dalam ayat di atas dijelaskan bahwa ilmu yang dimilki oleh seorang mempunyai peranan yang sangat besar untuk meninggikan derajat seseorang. Menurut M. Quraish Shihab dalam tafsir Al-Misbah disebutkan bahwa Allah akan meninggikan derajat orang-orang yang beriman dan orang-orang yangberilmu pengetahuan, bukan hanya karena ilmu yang dimilikinya, akan tetapi adanya amal dan pengajaran yang dilakukan kepada pihak lain baik secara lisan maupun secara tulisan.
Menurut James Brow seperti yang dikutip oleh Sardiman A.M, mengemukakan bahwa :
Tugas dan peranan guru adalah menguasai dan mengembangkan materi pelajaran, merencanakan dan mempersiapkan pelajaran sehari-hari, mengontrol dan mengevaluasi kegiatan siswa.

Tugas guru yang paling utama adalah mengajar dan guru adalah sebagai yang menata lingkungan agar terjadi kegiatan belajar pada peserta didik. Tugas guru berperan aktif dalam proses belajar mengajar, sebagai tenaga pendidik yang profesional terlebih untuk mengembangkan ilmu pengetahuan yang dimilikinya.
Dalam perkembangan teknologi peran guru dapat berubah dari pengajar yang bertugas menyampaikan materi pembelajaran, menjadi fasilitator yang bertugas memberikan kemudahan belajar, dengan demikian perkembangan teknologi tersebut, sangat membantu dalam proses belajar mengajar sebagai jalan pintas dalam proses pembelajaran.

Salah satu bidang pengetahuan terapan yang diharapkan semakin memberi sumbangan bagi perkembangan pendidikan yaitu dibidang teknologi pendidikan. Sejalan dengan perkembangan bidang pengetahuan khususnya ilmu pengetahuan dan teknologi komunikasi mengalami kemajuan yang sangat pesat untuk selanjutnya berpengaruh terhadap pola komunikasi di masyarakat. Tuntutan masyarakat yang semakin besar terhadap pendidikan serta kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi, membuat pendidikan tidak mungkin lagi dikelola hanya dengan pola tradisional, karena cara ini tidak sesuai lagi dengan kebutuhan dan tuntutan masyarakat.
Hasil teknologi telah sejak lama dimanfaatkan dalam pendidikan. Banyak yang diharapkan dari alat-alat teknologi pendidikan untuk membantu berbagai masalah pendidikan sehingga dapat membantu siswa belajar secara individual dengan lebih efektif dan efisien.
Pemanfaatan teknologi komunikasi untuk kegiatan pendidikan, serta media pendidikan sangat diperlukan dalam rangka kegiatan belajar mengajar. Dengan pendekatan ilmiah, sistematis dan rasional tujuan pendidikan yang efektif dan efisien akan tercapai.
Indonesia yang merupakan negara yang sedang berkembang juga tidak terlepas dari masalah pendidikan seperti diatas. Ternyata walaupun sudah dilakukan perubahan dan pengembangan dalam teknologi pendidikan, tetap saja hasilnya belum bisa optimal. Dalam menghadapi pendidikan tersebut, sebenarnya banyak alternatif pemecahan yang dapat ditempuh, baik oleh perencana pendidikan ataupun pelaksana pengajaran dikelas (guru bidang studi), contohnya saja belajar mengunakan liquid cristal display dalam proses belajar sangat membantu dalam proses belajar mengajar. Dan ini lebih mungkin dilakukan oleh para pendidik untuk pengembangan metode dan media pembelajaran.
Terciptanya sumber daya manusia yang tinggi merupakan harapan dan keinginan bagi setiap lembaga pendidikan yang bergerak dalam bidang pendidikan. Harapan tersebut tentu saja tidak bisa diperoleh secara mudah secepat membalikkan telapak tangan tanpa adanya hal pendukung didalamnya, contohnya saja liquid cristal display sebagai media pembelajaran mempunyai kedekatan proses dalam perangkat komputer. Liquid cristal display (LCD) merupakan alat media yang sangat dibutuhkan dalam peningkatan kualitas sumber daya manusia apalagi peningkatan kualitas anak dalam mempelajari Pendidikan Agama Islam.
Adapun salah satu hal yang harus diperhatikan dalam kemajuan suatu proses pembelajaran adalah fasilitas yang tersedia, tersedianya sarana dan prasarana atau alat bantu media pengajaran, misalnya tersedianya media pembelajaran dalam proses pembelajaran seperti komputer, liquid cristal display, televisi, radio, vidio serta fasilitas lainnya sangat menentukan terhadap efektif tidaknya suatu metode dan sebaiknya seorang guru yang baik harus senantiasa menyiapkan (membuat) alat peraga atau media pengajaran pada setiap kali akan mengajar.
Dimana media merupakan wahana penyalur informasi, belajar atau penyalur pesan yang memungkinkan anak didik memperoleh pengetahuan dan keterampilan. Dalam proses belajar mengajar kehadiran media mempunyai arti yang sangat penting, karena dalam kegiatan tersebut ketidak jelasan bahan yang disampaikan dapat dibantu dengan menghadirkan media sebagai perantara, yang mana dalam proses pembelajaran banyak menggunakan media, diantaranya radio, televisi, maupun liquid cristal display, semua alat media tersebut sangat membantu proses pembelajaran.
Namun, pada kenyataanya sarana prasarana yang diungkapkan diatas jarang sekali dipergunakan disekolah-sekolah. Padahal hal tersebut sangat membantu dalam pelaksanaan proses belajar mengajar, apalagi dalam pelajaran Pendidikan Agama Islam, terutama materi-materi yang menyangkut kepada permasalahan-permasalahan yang perlu diperlihatkan kepada siswa, sehingga siswa akan lebih mudah memahami serta dapat menanggap secara jelas.
Menurut Gerlach dan P.Ely sebagai sumber alat belajar, media memiliki tiga keistimewaan dalam proses belajar atau kemampuan yang disebut sebagai Three Properties of media, yaitu :
1. The Fixative Properti, artinya media memiliki kemampuan untuk menangkap, menyimpan dan menampilkan kembali suatu kejadian atau obyek.
2. The Mani Polative Properti, artinya media mempunyai kemampuan menampilkan kembali suatu obyek atau kejadian dengan berbagai macam cara disesuaikan berdasarkan atas kebutuhan penyajinya.
3. The Distributive Properti, artinya media mempunyai kemampuan dalam menampilkan dan dapat menjangkau jumlah siswa yang besar.

Dari ketiga kemampuan media tersebut, maka dapat dikatakan bahwa pengembangan media belajar juga akan mengikutkan pengembangan metode mengajar, sehingga langkah tersebut tepat untuk memperbaiki kualitas belajar mengajar. Pengembangan dapat berupa pengefektifan media yang sudah ada ataupun membuat media belajar yang baru.
Dalam Proses belajar mengajar ada yang disebut bahan ajar interaktif, dimana dalam menyiapkan bahan ajar interaktif tersebut diperlukan pengetahuan dan keterampilan pendukung yang memadai terutama dalam mengoperasikan peralatan seperti komputer, kamera vidio dan sebagainya. Jadi disini dapat dilihat betapa pentingnya media teknologi terutama pemakaian liquid cristal display dalam proses mengajar.
Pada umumnya dalam dunia pendidikan, pemanfaatan penggunaan liquid cristal display dalam proses belajar mengajar dibagi menjadi dua macam, yaitu pemanfaatan liquid cristal display sebagai alat bantu mengajar dan pengajaran yang dikelola atau dicatat oleh liquid cristal display. Tetapi yang berkaitan langsung dengan pengajaran adalah konsep sebagai alat bantu mengajar.
Dalam proses belajar mengajar, konsep sebagai alat bantu mengajar liquid cristal display, kiranya sangat tepat untuk dipergunakan. Dalam hal ini liquid cristal display dapat berfungsi sebagai simulator, yaitu sebagai media penyaji pengganti papan tulis, untuk membantu guru dalam menyampaikan diagram, gambar atau intisari yang rumit dengan ketelitian tertentu, sehingga media ini sangat menunjang mata pelajaran dengan tujuan instruksional yang ingin dicapai melalui pengamatan, karena guru dapat menunjukkan kepada siswa, efek-efek dinamis yang sulit untuk ditampilkan lewat papan tulis dan kapur.
Apabila kita melihat dari manfaat dan keunggulan liquid cristal display mestinya kita sudah harus memulai pemakaian liquid cristal display dalam dunia pendidikan, pemakaian liquid cristal display adalah salah satu usaha untuk meningkatkan kualitas belajar peserta didik, contohnya saja belajar sholat, cara-cara bertata krama sesama manusia, apalagi dengan adanya gambar-gambar yang di munculkan liquid cristal display menambah pemahaman dan minat anak dalam belajar sehingga terjadi model pengajaran yang ideal.
Karena model pengajaran memakai media liquid cristal display masih merupakan hal yang baru, dan belum banyak dikenal serta dipakai oleh guru-guru, hal ini lah yang mendorong peneliti untuk lebih mengetahui sejauhmana sebenarnya perbandingan yang memakai metode pengajaran konvensional dengan memakai media liquid cristal display dalam pengajaran. Penelitian yang penulis akan membahasnya dalam bentuk skripsi dengan judul : ” Studi Perbandingan Prestasi Belajar Siswa Dengan Pengajaran Konvensial Dan Pengajaran Memakai Media Pembelajaran Liquid Cristal Display Pada Mata Pelajaran Pendidikan Agama Islam Kelas VIII SMP Al-Muslimin Pandan”.

B. Identifikasi Masalah
Ada beberapa hal yang harus diperhatikan dalam pengidentifikasian masalah ini antaranya, adalah :
1. Prestasi belajar akan melahirkan inovasi-inovasi terhadap prestasi yang diraih, inovasi tersebut ada kaitan dengan metode pengajaran. Peneliti merasakan banyak guru yang berpengalaman dalam menggunakan metode pengajaran konvensional, namun belum ada perubahan sikap terhadap prestasi siswa
2. Proses belajar merupakan kegiatan anak didik dalam menerima, menanggapi serta menganalisa bahan pelajaran yang disajikan oleh pengajar, yang berakhir pada kemampuan untuk menguasai bahan pelajaran yang disajikan itu.
3. Tujuan akhir dari proses belajar tersebut adalah adanya perubahan metode yang bisa dikondusifkan dalam motode pengajaran. Dalam hal ini metode tersebut perlu ada perubahan yang signifikan pada diri siswa kepada yang lebih baik, terutama dalam menggunakan media pembelajaran. Hal ini dapat dilihat terhadap perubahan siswa yang menggunakan metode pengajaran konvensional dengan siswa menggunakan metode pembelajaran memakai media liquid cristal display.

C. Pembatasan Masalah
Untuk menghindari terjadinya pengembangan pola pikir yang tidak memiliki relevansi dengan judul serta tidak meluasnya penulisan dan pembahasan skripsi ini, maka penulis membatasi permasalahan, yaitu sebagai berikut :
1. Bagaimana perbandingan prestasi belajar yang didapatkan oleh siswa antara menggunakan Media liquid cristal display dengan menggunakan metode pengajaran konvensional dalam Mata Pelajaran Pendidikan Agama Islam.
2. Adakah perkembangan yang dirasakan oleh siswa, dengan adanya perubahan proses belajar
3. Sejauhmana liquid cristal display membantu perkembangan pendidikan disekolah.
4. Apakah tujuan akhir dari proses dalam menggunakan media liquid cristal display tercapai dengan baik ?

D. Perumusan Masalah
Dari latar belakang masalah yang penulis paparkan diatas, maka yang menjadi pokok permasalahan dalam penelitian ini, adalah Bagaimana perbandingan prestasi belajar dalam Proses Pengajaran memakai media pembelajaran liquid cristal display dengan pengajaran konvensional pada mata pelajaran Pendidikan Agama Islam kelas VIII di SMP Al-Muslimin Pandan

E. Tujuan Penelitian
Adapun tujuan dari pembahasan dalam penelitian ini adalah :
a. Untuk mengetahui serta memperoleh data dan informasi bagaimana perbandingan prestasi belajar yang didapatkan oleh siswa dalam pembelajaran yang menggunakan media liquid cristal display dalam Mata Pelajaran Pendidikan Agama Islam.
b. Untuk mengetahui perkembangan siswa dalam mempelajari Pendidikan Agama Islam
c. Untuk mengetahui sejauh mana liquid cristal display membantu perkembangan pendidikan disekolah.

F. Manfaat Penelitian
Adapun kegunaan dari penulisan skripsi ini adalah :
1. Sebagai bahan masukan bagi Bapak/Ibu guru khusus guru mata Pelajaran Pendidikan Agama Islam dan pada umumnya bagi Bapak/Ibu guru-guru Mata Pelajaran lain, untuk dapat menggunakan media pembelajaran liquid cristal display dalam proses kegiatan belajar.
2. Sebagai motivasi bagi siswa, agar terlaksananya kegiatan belajar dengan kondusif, sehingga daya tangkap serta dalam menganalisa pembelajaran bisa cepat ditanggapi dan diingat.

3. Sebagai bahan masukan bagi Kepala Sekolah untuk dapat memprogramkan serta memberikan kesempatan bagi Bapak/Ibu guru untuk menggunakan media pembelajaran khususnya dalam menggunakan media liquid cristal display, agar tercapai tujuan kurikulum.
4. Sebagai bahan masukan bagi Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Tapanuli Tengah, agar dapat memberikan kebijakan-kebijakan kepada seluruh kepala sekolah agar setiap Bapak/ Ibu guru, untuk memakai media Pembelajaran dengan baik, seperti halnya dengan menggunakan media liquid cristal display.

BAB II
LANDASAN TEORITIS
A. Prestasi Belajar dalam Proses Kegiatan Belajar Mengajar
1. Pengertian Prestasi Belajar
Prestasi belajar merupakan dua kata yang memiliki bentuk dan sifat yang berbeda ”Prestasi” dan ”Belajar”. Pengertian Prestasi adalah hasil yang telah dicapai dari yang telah dilakukan, dikerjakan, dan sebaginya , sedangkan belajar adalah suatu kegiatan anak didik dalam menerima, menanggapi serta menganalisa bahan pelajaran yang disajikan oleh pengajar, yang berakhir pada kemampuan untuk menguasai bahan pelajaran yang disajikan itu.
Proses belajar mengajar dalam mata pelajaran Pendidikan Agama Islam bisa mengacu pada aspek, yaitu penguasaan sejumlah pengetahuan, keterampilan, dan sikap tertentu sesuai dengan isi proses belajar mengajar. Pengajaran sebagai suatu sistem merupakan kegiatan yang meliputi berbagai komponen, yaitu tujuan, materi atau isi, kegiatan belajar mengajar, metode, alat atau media dan evaluasi yang berkaitan erat antara satu sama lain yang mempunyai maksud yang berbeda.
Selama ini dalam proses belajar mengajar dihadapkan pada target dan penguasaan materi. Hal ini terbukti bahwa siswa hanya berhasil dalam kompetesi dalam jangka pendek, namun mengalami kegagalan dalam memecahkan persoalan hidup jangka panjang.

Sedangkan manusia terdidik memiliki empat karakteristik, yaitu :
1. Mampu mengatasi berbagai masalah kehidupan yang terjadi setiap hari
2. Mempunyai tingkah laku yang tepat dalam kehidupan masyarakat
3. Mampu mengendalikan kesenangan dan tetap tegar dan rendah hati bila mendapat kemenangan.
4. Terus berusaha untuk menghasilkan suatu yang berdasarkan kemampuan dan bakat yang dimiliki.
Permasalahan yang sering terjadi khususnya dalam belajar mengajar, guru hanya memperhatikan hasil-hasil yang dicapai siswa pada ujian penghabisan dari pada hasil yang dicapai siswa sebelumnya.

2. Tujuan Prestasi Belajar
Disamping penentu keberhasilan belajar seperti yang diuraikan dimuka, maka sebenarnya faktor diri siswa juga sangat berpengaruh. Dengan demikian keberhasilan yang dicapai dalam pengajaran akan menimbulkan prestasi belajaran.
Adapun sebagai tujuan prestasi belajar menurut peneliti adalah :
1. Siswa mampu menanggap apa yang disampaikan oleh guru secara jelas dan dapat diingat dengan cukup lama.
2. Dari segi tes dan nilai, siswa akan lebih memahami pengajaran sistem yang bersifat media, sehingga soal atau pertayaan yang diberikan oleh guru dapat tertanggap dengan baik dan jelas

3. Kegiatan Belajar Mengajar
Erat kaitannya dengan bahan pelajaran adalah kegiatan belajar mengajar. Kegiatan belajar mengacu kepada hal-hal yang berhubungan dengan kegiatan siswa dalam mempelajari bahan yang disampaikan guru. Sedangkan kegiatan mengajar berhubungan dengan cara guru menjelaskan bahan kepada siswa. Oleh karena itu kegiatan belajaran erat hubungannya dengan metode belajar, sedangkan kegiatan mengajar erat hubungannya dengan metode mengajar.
Kegiatan belajar siswa banyak dipengaruhi oleh kegiatan mengajar guru, misalnya jika kegiatan mengajar yang dilakukan guru meneturkan bahan secara lisan pada siswa (ceramah), maka kegiatan belajar siswa tidak banyak. Mereka hanya mendengarkan uraian guru, dan kalau perlu mencatatnya. Namun seandainya kegiatan guru mengajar dilaksanakan dengan cara bertanya atau melemparkan masalah untuk dipecahkan siswa, maka kegiatan siswa belajar akan lebih aktif, seperti berdiskusi, berdialog, apalagi seorang guru ketika menggunakan media pembelajaran yang sesuai dengan materi yang diajarkan, siswa akan mampu cepat menangkap apa yang disampaikan oleh guru.
Ciri pengajaran yang berhasil salah satu di antaranya dilihat dari kadar kegiatan siswa belajar. Makin tinggi kegiatan belajar siswa, makin tinggi peluang berhasilnya pengajaran. Ini berarti kegiatan guru mengajar harus merangsang siswa melakukan berbagai cara kegiatan belajar.

4. Keberhasilan belajar
Pengajaran pada dasarnya adalah suatu proses, terjadinya interaksi guru-siswa melalui kegiatan terpadu dari dua bentuk kegiatan, yakni kegiatan belajar siswa dengan kegiatan mengajar guru. Untuk menyatakan bahwa suatu proses belajar mengajar dapat dikatakan berhasil, setiap guru memiliki pandangan masing-masing. Namun untuk menyamakan persepsi sebaiknya kita berpedoman pada kurikulum yang berlaku saat ini yang telah disempurnakan, antara lain bahwa : Suatu proses belajar mengajar tentang suatu bahan pengajaran dinyatakan berhasil apabila tujuan instruksional khusus (TIK) nya dapat tercapai.
Adapun sebagai petunjuk bahwa suatu proses belajar mengajar indikator keberhasilan belajar adalah sebagai berikut :
1. Daya serap terhadap bahan pengajaran yang diajarkan mencapai prestasi tinggi, baik secara individual maupun kelompok
2. Perilaku yang digariskan dalam tujuan pengajaran/Instruksional khusus (TIK) telah dicapai oleh siswa, baik secara individual maupun kelompok.
Betapa tingginya nilai suatu keberhasilan, sampai-sampai seorang guru sekuat tenaga dan pikiran mempersiapkan program pengajarannya dengan baik dan sistematik. Namun terkadang keberhasilan yang dicita-citakan ada kegagalan yang ditemui, yang disebabkan faktor sebagai penghambatnya. Sebaliknya jika keberhasilan itu menjadi kenyataan, maka faktor itu juga pendukungnya, berbagai faktor yang dimaksud adalah tujuan, guru, anak didik, kegiatan pengajaran, alat evaluasi, bahan evaluasi dan suasana evaluasi, dan tidak terlepas kepada media pengajaran yang dirancang oleh seorang guru.
Kriteria untuk dapat menetapkan apakah pengajaran itu berhasil atau tidak secara umum, dapat dilihat dari dua segi, yakni kriteria ditinjau dari sudut proses pengajaran itu sendiri dan kriteria yang ditinjau dari sudut hasil atau produk belajar yang dicapai siswa. Sejalan dengan itu hasil belajar yang dicapai siswa, banyak dipengaruhi oleh kemampuan siswa, dan lingkungan belajar terutama kualitas pengajaran.

B. Pengajaran Konvensional dan Pengajaran memakai Media Pembelajaran Liquid Cristal Display
1. Pengertian Media
Dalam menyampaikan pesan pendidikan agama diperlukan suatu media pembelajaran. Media pembelajaran pendidikan Agama adalah perantara atau pengantar pesan dari guru agama kepada penerima pesan yakni siswa.
Kata media berasal dari bahasa latin medius yang secara harfiah berarti ”tengah”, perantara atau pengantar. Dalam bahasa Arab, media adalah perantara (وسائل) atau pengantar pesan dari pengirim kepada penerima pesan. Sedangkan secara istilah media adalah segala sesuatu yang dapat digunakan untuk menyalurkan pesan dari pengirim kepada penerima, sehingga dapat merangsang pikiran, perasaan, perhatian dan minat, serta perhatian siswa sedemikian rupa sehingga proses belajar terjadi.
Oleh sebab itu dapat juga dikatakan media merupakan wahana penyalur informasi belajar atau penyalur pesan. Bila media adalah sumber belajar, maka secara luas media dapat diartikan dengan manusia, benda, ataupun peristiwa yang memungkinkan anak didik memperoleh pendidikan, pengetahuan dan keterampilan. Sebagian media dapat dapat mengolah pesan dan respons siswa sehingga media itu sering disebut media interaktif. Pesan dan informasi yang dibawa oleh media bisa berupa pesan yang sederhana dan bisa pula pesan yang amat kompleks. Akan tetapi yang paling penting adalah media itu, disiapkan untuk memenuhi kebutuhan belajar dan kemampuan siswa, serta siswa dapat aktif berpartisipasi dalam proses belajar mengajar. Oleh karena itu, perlu dirancang dan dikembangkan lingkungan pembelajaran yang interaktif yang dapat menjawab dan memenuhi kebutuhan belajar perorangan dengan metyiapkan kegiatan pembelajaran dengan medianya yang efektif guna menjamin terjadinya pembelajaran.
Dengan demikian dapat disimpulkan bahwasanya media adalah sebagai alat bantu dalam proses belajar mengajar. Media juga merupakan alat peraga dimana alat peraga dalam mengajar memegang peranan penting sebagai alat bantu untuk menciptakan proses belajar mengajar yang efektif.
Dalam kegiatan belajar mengajar, sering pemakaian kata media pembelajaran digantikan dengan istilah-istilah seperti alat pandang-dengar, bahan pengajaran
Ada 6 (enam) fungsi pokok dari alat peraga dalam proses belajar mengajar. Keenam fungsi tersebut adalah :
a. Penggunaan alat peraga dalam proses belajar mengajar bukan merupakan fungsi tambahan tetapi mempunyai fungsi tersendiri sebagai alat bantu utuk mewujudkan situasi belajar mengajar yang efektif.
b. Penggunaan alat peraga merupakan bagian yang integral dari keseluruhan situasi mengajar.

c. Alat peraga dalam pengajaran penggunaannya integral dengan tujuan dan isi pelajaran.
d. Penggunaan alat peraga dalam pengajaran bukan semata-mata alat hiburan.
e. Penggunaan alat peraga dalam pengajaran lebih diutamakan untuk mempercepat proses belajar mengajar dan membantu siswa dalam menanggap penegrtian yang diberikan guru.
f. Penggunaan alat peraga dalam pengajaran diutamakan untuk mempertinggi mutu belajar mengajar.

2. Pengertian Pengajaran Konvensional
Media Konvensional dapat diartikan adalah sebagai menurut apa yang sudah menjadi kebiasaan, dalam hal ini menurut penulis adalah bentuk pengajaran yang bersifat tradisional (dilakukan menurut kebiasaan), yaitu menggunakan media papan tulis dan kapur dengan metode ceramah/tanya jawab didalam ruangan kelas biasa
Seperti halnya yang dikemukakan oleh Winarno Surachmad M, Ed, yang dimaksud dengan ceramah sebagai metode mengajar ialah penerangan dan peraturan secara lisan oleh guru terhadap kelasnya. Selama berlangsungnya ceramah, guru bisa menggunakan alat-alat pembantu seperti gambar-gambar bagan, agar uraiannya menjadi jelas. Tetapi metode utama dalam perhubungan guru dengan murid-murid adalah berbicara.

Ciri yang menonjol dalam metode ceramah, dalam pelaksanaan pengajaran dikelas, adalah peranan guru tampak sangat dominan. Adapun murid mendengarkan dengan teliti dan mencatat isi ceramah yang disampaikan oleh guru di depan kelas.
Firman Allah swt, sebagai berikut :

(3)
(الجمعد : 2 – 3)
Artinya : ”Dialah yang mengutus kepada kaum yang buta huruf seorang Rasul di antara mereka, yang membacakan ayat-ayatNya kepada mereka, menyucikan mereka dan mengajarkkan kepada mereka Kitab dan Hikmah. Dan sesungguhnya mereka sebelumnya benar-benar dalam kesesatan yang nyata, dan juga kepada kaum yang lain dari mereka, yang belum berhubungan dengan mereka. Dan Dialah Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana”. (Q.S Al-Jumu’ah ayat 2 – 3)

Adapun sebagai kelemahan dari metode konvensial menurut penulis adalah:
1. Metode konvensial hanya cendrung mempertimbangkan segi banyak nya bahan pelajaran yang akan disajikan dan kurang memperhatikan/ mementingkan segi kualitas (mutu) penguasaan bahan pelajaran
2. Bila situasi kelas tidak dapat dikuasai oleh guru secara baik, maka proses pengajaran akan dapat menjadi tidak efektif
3. Sulit mengukur sejauh mana penguasaan bahan pelajaran yang telah diberikan itu untuk peserta didik

Dalam hal ini proses belajar mengajar dengan metode ceramah yang menggunakan media konvensional, penulis merasa perlu ada pembaharuan dalam proses pengajaran yang menggunakan media, maka dengan media yang digunakan perlu ada peningkatan lagi, sesuai dengan perkembangan dunia pendidikan.
Dalam Pendidikan Islam dapat dikatakan sebagai usaha untuk mengubah kesempurnaan potensi itu menjadi kesempurnaan aktual, melalui setiap tahapan hidupnya, sehingga berfungsi dalam pendidikan Islam adalah menjaga keutuhan unsur-unsur individual anak didiknya dan mengoptimalkan potensinya

3. Pengertian Pengajaran Memakai Media Liquid Cristal Display
Sesuai dengan perkembangan media dewasa ini, masing-masing media pendidikan memiliki fungsi yang berbeda-beda dalam bidang pendidikan dan latihan. Sebagaimana yang dijelaskan tentang pengertian liquid crystal display, yang merupakan Jenis tampilan layar yang menggunakan persenyawaan cair yang mempunyai struktur molekul polar, diapit antara dua elektroda yang transparan, yang dimaksud penulis adalah salah satu alat media pembelajaran yang menggunakan komputer yang dapat memproses dan mengeluarkan data, sehingga dapat memantulkan data, yang langsung secara jelas dapat dilihat oleh siswa.

Ada beberapa pengertian liquid crystal display (LCD), yaitu :
1. LCD (liquid crystal display) merupakan kompunen yang digunakan untuk menampilkan data baik berupa huruf, angka, simbol, ataupun sebuah grafik tergantung dari jenis liquid crystal display itu sendiri.
2. Istilah media bahwa liquid cristal display merupakan salah satu media proyeksi diam atau media yang bersifat visual. Media jenis ini hampir sama dengan media grafis dalam segi penyajian rangsangan-rangsangan visualnya. Perbedaan antara media grafis dengan media proyeksi diam adalah terletak pada pola interaksinya. Dalam media grafik pola interaksi yang ada dapat berjalan secara langsung dengan pesan media yang bersangkutan. Sedangkan media proyeksi terlebih diam, pola interaksinya harus diproyeksikan dengan proyektor terlebih dahulu agar pesannya dapat dilihat oleh siswa.

Dapat penulis simpulkan bahwa liquid crystal display (LCD) adalah pelengkap OHP untuk memproyeksikan informasi langsung melalui komputer. liquid crystal display mengubah tampilan komputer dari gambar elektronik menjadi layar proyeksi. Yang menarik dari penggunaan liquid crystal display ini adalah kemampuannya menghasilkan kualitas gambar sama seperti penggunaan OHT biasa. Teknologi liquid crystal display juga dapat menampilkan gambar (pictures), warna (colours), dan gerakkan (animated). Dengan liquid crystal display pesan dirancang dalam komputer dan hasilnya diproyeksikan kelayar, tindakan menunjuk dilakukan pada komputer. Penggunaan liquid crystal display menuntut adanya rancangan program yang dikembangkan secara profesional, sehingga efektivitas penggunaanya dapat tercapai dengan baik.
Mengingat banyaknya tujuan pembelajaran pendidikan Agama yang ingin dicapai, beraneka ragam karakteristik siswa, keadaan lingkungan, kondisi, budaya dan norma-norma setempat yang berlaku, dan biaya, maka jenis media pembelajaran yang digunakan dalam pendidikan agama pun juga harus dipilih dan disesuaikan dengan perbedaan tersebut.
Dick dan Carey (1978) menyebutkan ada 4 (empat) faktor yang perlu dipertimbangkan dalam pemilihan media untuk suatu pembelajaran, disamping kesesuaian antara tujuan pembelajaran dengan media. Keempat faktor tersebut adalah sebagai berikut :
a. Keterbatasan sumber dana setempat
b. Tenaga dan fasilitas
c. Kepraktisan dan ketahanan media yang akan digunakan
d. Efektifitas biayanya dalam waktu yang panjang

Sedangkan Esseff, J.P & Esseff, M.S (1980) menyebutkan 5 cara untuk mengklasifikasikan media pembelajaran untuk keperluan mempreskripsikan strategi penyampaian pembelajaran pendidikan agama, meliputi :
a. Tingkat kecermatan resprentasi pesan
b. Tingkat interaksi yang mampu ditimbulkan oleh media
c. Tingkat kemampuan khusus yang dimiliki media
d. Tingkat motivasi yang ditimbulkan oleh media, dan
e. Tingkat biaya yang diperlukan dalam mengoperasionalisasikan media.
Maka penulis lebih tertarik untuk lebih membahas tentang media yang ditampilkan oleh liquid cristal display dalam metode pengajaran di dalam mata pelajaran Pendidikan Agama Islam.

C. Pengajaran Mata Pelajaran Pendidikan Agama Islam
1. Pengertian Pendidikan Islam
Meskipun sebagian orang mengetahui tentang apa itu pendidikan Islam, tetapi ketika pendidikan Islam tersebut diartikan dalam satu batasan tertentu, maka terdapatlah bermacam-macam pengertian yang diberikan.
Istilah pendidikan dalam konteks Islam sering dikenal dengan istilah at-tarbiyah, al-ta’lim dan al-ta’dib. Ketiga term tersebut memiliki kesamaan makna. Namun secara esensial, setiap term memiliki perbedaan, baik secara tekstual maupun kontekstual. Untuk itu perlu dikemukakan uraian dan analisis terhadap ketiga term tersebut dengan beberapa argumentasi tersendiri dari beberapa para ahli pendidikan Islam.
Secara filosofis mengisyaratkan bahwa proses pendidikan Islam adalah bersumber pada pendidikan yang diberikan Allah sebagai ”pendidik” seluruh ciptaan Nya termasuk manusia. Dalam konteks luas pengertian pendidikan Islam yang dikandung dalam at-tarbiyah terdiri atas empat unsur pendekatan, yaitu : (1) memelihara dan menjaga fitrah anak didik menjelang dewasa (baligh), (2) mengembangkan seluruh potensi menuju kesempurnaan, (3) mengarahkan seluruh fitrah menuju kesempurnaan, (4) melaksanakan pendidikan secara bertahap.
Istilah al-ta’lim telah digunakan sejak periode awal pelaksanaan pendidikan Islam. Menurut para ahli, kata ini lebih bersifat universal dibanding dengan al-tarbiyah maupun al-ta’dib. Rasyid Ridha, misalnya mengartikan al-ta’lim sebagai proses transmisi berbagai Terlepas ilmu pengetahuan pada jiwa individu tanpa adanya batasan dan ketentuan tertentu
Para ahli pendidikan Islam telah mencoba memformulasikan pengertian pendidikan Islam. Di antara batasan yang sangat bervariatif tersebut adalah :
1. Al-Syaibani mengemukakan bahwa pendidikan Islam adalah : Proses upaya tingkah laku peserta didik pada kehidupan pribadi, masyarakat dan alam sekitarnya. Proses tersebut dilakukan dengan cara pendidikan dan pengajaran sebagai suatu aktifitas asasi dan profesi diantara sekian banyak profesi asasi dalam masyarakat

2. Muhammad Fadhil al-Jamaly, mendefernisikan pendidikan Islam sebagai upaya mengembangkan, mendorong serta mengajak peserta didik hidup lebih dinamis dengan berdasarkan nilai-nilai yang tinggi dan kehidupan yang mulia. Dengan proses tersebut diharapkan akan terbentuk pribadi peserta didik yang lebih sempurna, baik yang berkaitan dengan potensi akal, perasaan maupun perbuatannya.
3. Ahmad D. Marimba, mengemukakan bahwa pendidikan Islam adalah : Bimbingan atau pimpinan secara sadar oleh pendidik terhadap perkembangan jasmani dan rohani peserta pendidik menuju terbentuknya kepribadian yang utama (insan kamil).

Beranjak dari pengertian diatas, maka ruang lingkup kependidikan Islam adalah mencakup segala bidang kehidupan manusia di dunia, dimana manusia mampu memanfaatkan sebagai pembentukan sikap dan nilai-nilai Islamiyah yang dilakuan melalui proses pendidikan yang berjalan diatas kadah-kaidah ilmu pengetahun kependidikan
Islam. Melalui pendekatan ini, ia akan dapat dengan mudah membentuk dirinya dengan nilai-nilai ajaran Islam yang dinyakininya.

2. Dasar dan Tujuan Pendidikan Agama Islam
Pendidikan Islam sejak awal merupakan salah satu usaha untuk menumbuhkan dan memantapkan kecenderungan tauhid yang telah menjadi fitrah manusia, dalam artian pendidikan Islam mendasarkan kepada nilai-nilai Agama, sehingga menjadi petunjuk dan penuntun. Pendidikan Islam selalu menyelenggarakan pendidikan dan yang ada nilai-nilai agama.
Tujuan dari pendidikan akan menentukan approach atau metode apa yang akan digunakan dalam kegiatan pengajaran, dengan kata lain approach adalah metode dan teknik yang berkaitan erat dengan tujuan pendidikan. Demikian halnya tujuan pendidikan agama Islam dalam memperoleh pengajaran yang bersifat menghasilkan penerapan nilai-nilai agama.
Firman Allah swt, sebagai berikut :

(8)
(العلق : 1-8)
Artinya : ”Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhan mu yang menciptakan (1), Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah (2), Bacalah, dan Tuhan mulah yang maha pemurah (3) yang mengajarkan (manusia) dengan perantaraan kalam (4), Dia mengajarkan kepada manusia apa yang tidak diketahuinya (5), ketahuilah! Sesungguhnya manusia benar-benar melampaui batas (6), karena dia melihat dirinya serba cukup (7), Sesungguhnya hanya kepada Tuhanmulah kembali (mu)(8) ”.
(Q.S Al-’Alaq : 1 – 8)

Penulis mengkaitkan ayat tersebut kepada dasar dan tujuan pendidikan agama Islam disebabkan manusia perlu untuk belajar dan meraih apa yang menjadi dasar untuk dalam proses belajar dalam pendidikan agama Islam, sehingga nilai-nilai ajaran Islam bisa terserap dengan mudah khususnya dalam mempelajari agama Islam.
Dalam firman Allah swt dalam surat At-Taubah ayat 122 juga menjelaskan :

(التوبة : 122)
Artinya : ”Tidak sepatutnya bagi orang-orang yang mu’min itu pergi semuanya (ke medan perang). Mengapa tidak pergi dari tiap-tiap golongan di antara mereka beberapa orang untuk memperdalam pengetahuan mereka tentang agama dan untuk memberi peringatan kepada kaumnya apabila mereka telah kembali kepadanya, supaya mereka itu dapat menjaga dirinya”. (QS. At-Taubah : 122)

Dari dua ayat tersebut diatas, yang menjadi tujuan pendidikan agama Islam diarahkan kepada pencapaian tujuan, yakni tujuan jangka panjang (tujuan umum atau tujuan hidup) dan tujuan jangka pendek atau tujuan khusus. Dalam tujuan khusus merupakan hasil penjabaran dari tujuan pendidikan jangka panjang atau tujuan hidup. Karena tujuan umum tersebut akan sulit dicapai tanpa dijabarkan secara operasional dan terperinci secara spesifik dalam suatu pengajaran.
Maka jika kita perhatikan tujuan dari pendidikan Islam adalah sejalan dengan tujuan hidup manusia itu sendiri, yakni sebagaima tercermin dalam firman Allah swt , sebagai berikut :
(الذارية : 56)
Artinya : ”Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka menyembahKu”.(Q.S Addzariat : 56)

Dengan demikian tujuan pendidikan Islam haruslah diarahkan kepada pencapaian tujuan akhir, yaitu membentuk insan yang senantiasa berhamba kepada Allah dalam semua aspek kehidupannya.

3. Urgensi Nilai dalam Pendidikan Islam
Kehidupan manusia tidak terlepas dari nilai pendidikan, sehingga selanjutnya perlu adanya upaya pendidikan terutama dalam nilai-nilai agama. Pendidikan Islam bertugas mempertahankan, menanamkan dan mengembangkan kelangsungan dalam nilai-nilai Islami yang bersumber dari al-Qur’an dan hadits. Sejalan dengan tuntutan kemajuan atau modernisasi kehidupan masyarakat akibat pengaruh kebudayaan yang meningkat, pendidikan Islam memberikan kemudahan dalam penyerapan, terutama dalam penggunaan proses pembelajaran sesuai dengan perkembangan nilai-nilai dalam lingkupnya.

Sebagai ilustrasi, pada zaman terdahulu belum dijumpai adanya teknolgi canggih dibidang informasi dan trasnportasi, sehingga di dalam firman Allah dan sabda Nabi sendiri belum secara eksplisit memberikan tuntutan tentang penggunaan teknologi. Apakah wajar bila ummat Islam dialarang untuk memanfaatkan hasil teknologi, dan apakah diharamkan menggunakan teknologi, seperti alat-alat elektronik terutama dalam media pendidikan.
Dengan ilustrasi demikian Pendidikan Islam justru wajib memperluas rentangan konfigurasi nilai-nilai Islam, sehingga setiap pribadi muslim mampu melakukan dialog konstruktif terhadap kemajuan teknologi modern. Sehingga urgensi nilai dalam pendidikan Islam dapat berkembang sesuai kemajuan teknologi dan informasi.

4. Pembelajaran Pendidikan Agama Islam dalam meningkatkan Prestasi Belajar
Prinsip peragaan (visualisasi) dalam pengajaran mengharuskan bagi setap guru dalam menyajikan bahan pelajaran di dalam kelas selalu menggunakan alat peraga sebagai alat bantu.
Pada prinsipnya pengetahuan dan pengalaman yang diperoleh manusia banyak diserap melalui indra (mata, telinga, hidung, mulut, dan alat sensoris berupa peraba), sehingga wajar kalau Dr. Maria Montessori mengatakan, bahwa alat indra adalah merupakan pintu gerbang segala pengetahuan. Atas dasar ini maka penggunaan alat peraga dapat terjadi dalam setiap metode-metode mengajar.
Dalam hal ini penulis sependapat dengan hal tersebut, apalagi metode dalam pembelajaran. Seorang guru harus menguasai metode-metode dalam mengajar sesuai dengan perkembangan yang ada. Metode pengajaran yang berkembang pada saat ini adalah metode pengajaran memakai media pendidikan, salah satunya media pendidikan adalah media liquid cristal display, sehingga dalam pengamatan, penglihatan dan pendengaran dalam proses belajar mengajar lebih mudah.
Dengan menggunakan media dalam setiap pengajaran, maka pengajaran menjadi lebih bermakna dan bernilai praktis, diantara nilai peraktis dari alat media tersebut adalah :
1. Dengan menggunakan media dapat memberikan arti luas dan mendalam terhadap pengertian dan pemahaman pelajaran yang diberikan.
2. Dengan alat media dapat menjangkau batas-batas ruang dan waktu yang tersedia dalam proses belajar, sehingga memungkinkan pengajran sedemiakian rupa dapat direduksi dan dilaksanakan.
3. Pengajaran menjadi menarik minat dan perhatian peserta didik, sehingga proses pengajaran menjadi dinamis, komunikatif dan responsif.
4. Dapat memberikan pengalaman langsung serta menyeluruh mengenai obyek-obyek tertentu dari pelajaran, sehingga pengajaran lebih bermakna, karena menyentuh sendi kehidupan nyata bagi peserta didik
5. Dapat membangkitkan motivasi dan merangsang untuk giat belajar.

Dari hal tersebut jelaslah media pengajaran, dapat memberikan keberhasilan pengajaran dapat dicapai secara optimal. Keberhasilan pengajaran banyak ditentukan oleh keberhasilan dalam menentukan alat peraga dan cara penggunaannya secara tepat dan efektif. Berikut ini ada beberapa prinsip yang perlu diperhatikan oleh seorang guru dalam penggunaan atau penerapan media pengajaran, yaitu :
1. Media pengajaran hendaknya disesuaikan dengan tujuan pengajaran, sehingga nampak apa yang hendak dicapai dari pelajaran yang disampaikan oleh seorang pengajar.
2. Penggunaan media pengajaran hendaknya dapat memberikan pengertian dan pemahaman yang mendalam bagi peserta didik, terhadap obyek yang sedang dipelajari.
3. Alat media pendidikan dapat memancing motivasi, minat dan perhatian peserta didik, sehingga menarik dan merangsang anak didik untuk belajar.
4. Media pendidikan tersebut dapat mencipatakan efektivitas dan efisiendi belajar mengajar.
5. Pengajar hendaknya terampil dalam menggunakan berbagai alat media pendidikan di depan kelas, sehingga guru menuntut ketampilam dan keahlian secara sederhana, telaten.
6. Peserta didik dapat diberi pengetahuan tentang alat peraga serta cara penggunaanya dalam belajar

D. Kerangka Pemikiran
Pada dasarnya proses pengajaran memakai media pembelajaran liquid cristal display penting dalam menentukan prestasi belajar, dalam hal ini pada mata pelajaran Pendidikan Agama Islam. Oleh karena itu, sudah selayaknya seorang guru yang mempunyai tujuan agar tercapainya pembelajaran baik standar isi maupun standar kompetensi, untuk memperhatikan bagaimana daya serap dalam mecapai prestasi siswa. Dalam hal ini penulis akan memberikan dan membuktikan dalam studi perbandingan prestasi belajar dalam memakai media liquid cristal display dengan pengajaran konvensional pada siswa kelas VIII di SMP Al-Muslimin Pandan.
Suatu penelitian yang membuka peluang untuk mengkaji penyebab timbulnya perbandingan prestasi belajar dalam menggunakan media yang ada, apalagi SMP Al-Muslimin Pandan, memiliki media pembelajaran liquid cristal display yang dapat difungsikan oleh setiap guru, terutama dalam mata pelajaran Pendidikan Agama Islam. Dalam hal ini perlu ada pengkajian khusus yang meliputi segi-segi manakah perbandingan yang terdapat dapat metode pengajaran, apakah terdapat pada sistem pengajaran ataukah terdapat pada ada pengarus media yang digunakan?, hal ini sebagai tanda tanya bagi setiap guru ataupun seorang yang akan mengajar dihadapan siswa ketika di depan kelas dan perlu ada pengevaluasian dalam sistem pengajaran
Berdasarkan kerangka pemikiran yang telah dipaparkan di atas, maka terdapat gambaran yang jelas bahwa perbandingan prestasi belajar siswa dengan pengajaran konvensial dan pengajaran memakai media pembelajaran liquid cristal display pada mata pelajaran pendidikan agama Islam, cukup menjadikan acuan terbaik, khususnya dalam pemakaian alat media yang telah tersedia
E. Penelitian yang Relevan
Penelitian yang pernah diteliti di SMP Al-Muslimin Pandan, adalah mengenai perbandingan prestasi belajar bahasa Indonesia siswa antara pemakaian media pendidikan dengan yang tidak di SMP Al-Muslimin Pandan Tahun Pelajaran 2006/2007. Penelitian memakai media pendidikan yaitu media menggunakan buku LKS (Lembar Kerja Siswa), dari hasil peneltiannya dapat disimpulkan bahwa ada pengaruh media pendidikan sebagai alat bantu belajar dalam pengajaran pendidikan Bahasa Indonesia, diteliti oleh Saleha Nani Jusnidar, mahasiswa UMTS ( Universitas Muhammadiyah Tapanuli Selatan) tahun 2006.

F. Hipotesis
Hipotesis merupakan jawaban sementara terhadap masalah penelitian yang perlu diuji kebenarannya secara empiris. Sebagai pedoman dalam penulisan ini, terlebih dahulu dirumuskan hipotesis yang akan diuji kebenarannya melalui penelitian dengan menggunakan bukti-bukti. Untuk itu yang menjadi hipotesis dalam penelitian ini adalah ” Terdapat perbandingan prestasi belajar siswa dalam pembelajaran, antara metode pengajaran konvensial dengan metode pengajaran yang memakai media liquid cristal display khususnya dalam Mata pelajaran Pendidikan Agama Islam di SMP Al-Muslimin Pandan”.
Dengan demikian penelitian ini akan memberikan perbandingan-perbandingan dalam metode pengajaran, baik metode pengajaran konvensional dan metode pengajaran memakai media liquid cristal display.
BAB III
METODE PENELITIAN
A. Tempat Penelitian
1. Sejarah Singkat SMP Al-Muslimin Pandan
SMP Al-Muslimin merupakan salah satu sekolah swasta yang berada di Kabupaten Tapanuli Tengah yang merupakan lembaga pendidikan bernuansakan Islam.
SMP Al-Muslimin Pandan didirikan pada tahun 1999, sebagai kerjasama dewan pendidikan kabupaten Tapanuli Tengah dan para pengusaha, sebagai sumbangsih kepada negara dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa dan untuk menjawab perkembangan ilmu pengetahuan teknologi serta iman dan taqwa sekaligus mempersiapkan anak didik putra/i Kabupaten Tapanuli Tengah dan Sibolga masuk ke Sekolah Menengah Atas Negeri 1 Matauli Pandan.
SMP Swasta Al-Muslimin Pandan, diberi surat izin pendirian sekolah Nomor :141/105/KEP/1999, yang dikeluarkan pada tanggal 03 Juli 1999, Kepala Sekolah pertama yang dihunjuk oleh pengurus Yayasan Al-Muslimin Pandan, adalah Murdianto, S.Pd, salah satu guru SMAN 1 Plus Matauli Pandan.

Setelah berjalan 3 (tiga) tahun, tepat pada tahun 2002, bapak Murdianto, S.Pd, diangkat menjadi Wakil Kepala Sekolah SMAN 1 Plus Matauli, Sesuai dengan AD/ART SMAN 1 Plus Matauli, maka kepemimpinan SMP Swasta Al-Muslimin Pandan, harus ada regenerasi untuk melanjutkan kepemimpinan, sehingga pada tahun 2002, Yayasan Al-Muslimin Pandan melantik Bapak Mishan, S.Pd menjadi kepala Sekolah sampai sekarang.
SMP Swasta Al-Muslimin Pandan salah satu sekolah yang dipercaya oleh Dinas Pendidkan Kabupaten Tapanuli Tengah untuk mengembangkan mutu pendidikan di Kabupaten Tapanuli Tengah. Dal ini dapat dibuktikan setiap tahun para lulusan Sekolah Menengah Pertama sederajat sedikit yang mempunyai kemampuan Akademik yang baik yang masuk ke Sekolah Menengah Atas Negeri 1 Matauli Pandan dan Sekolah Mengah Atas atau Sekolah Menengah Kejurusan Unggulan lainnya asal Tapanuli Tengah dan Sibolga yang beragama Islam. Kenyataan tersebutlah yang mendasari pemikiran para peduli pendidikan sehingga dibentuklah SMP Al-Muslimin Pandan agar dapat mempersiapkan putra-putriTapanuli Tengah dan Sibolga melalui proses belajar mengajar yang terencana, terprogram dan terevaluasi.
Para peduli pendidikan Tapanuli Tengah dan Sibolga bermusyawarah membentuk SMP Al-Muslimin Pandan yang pengelolanya diserahkan kepada Para Guru SMAN 1 Matauli Pandan. Alhamdulillah sejak TP.2001/2002 alumni SMP Al-Muslimin Pandan sejak berdirinya pada tahun 1999 sampai pada tahun 2008 sudah mentamatkann 7 (tujuh) angkatan, dan para alumni sudah tersebar dan telah terbukti memenuhi keinginan Para Pendiri dan Peduli Pendidikan Tapanuli Tengah dan Sibolga tersebut.

2. VISI DAN MISI
Visi SMP Al-Muslimin Pandan
“Menjadikan lembaga pendidikan bernuansakan Islam yang mengedepankan mutu dan budaya berprestasi”.
Misi SMP Al-Muslimin Pandan
1. Melaksanakan pembelajaran yang efektif dan efisien sesuai kurikulum nasional dan pengembangan kurikulum sekolah.
2. Menumbuhkan semangat keunggulan secara intensif kepada seluruh warga sekolah (guru, staff administrasi dan murid).
3. Melaksanakan pembinaan olimpiade sains
4. Melaksanakan pembinaan Akhlakul Karimah dan menumbuh kembangkan kareakteristik sopan, santón, sapa serta salam.
5. Melaksanakan pembinaan berkala dan intensif bidang Seni Baca Al-qur’an dan mengintensif pembinaan bidang tari.
6. Melaksanakan latihan dan bimbingan intensif dalam penggunaan komputer.

3. STRUKTUR ORGANISASI
a. Pengurus Yayasan
Ketua Yayasan : Drs. H. Panusunan Pasaribu, M.M
Wakil Ketua : H. Ramlan Hoesin
Sekretaris : H. Anwar Jambak
Bendahara : H. Anasrul Panggabean
Wakil Bendahara : H. Aliuddin Pohan
Penasehat/ Pembina : 1. Drs. Mochammad Sugeng
2. Drs. Sumartono
Ketua BAPEL YAMP : H. Ramlan Hoesin
Sekretaris : H. Burhanuddin Siregar, S.E
Koor. Seksi Pendidikan : Murdianto, S.Pd. M.M
b. Pelaksana Pendidikan
Kepala Sekolah : Mishan, S.Pd
Wakasek Ur. Kurikulum : Rahmat Widodo, S.Pd
Wakasek Ur. Kesiswaan : Sumaryadi, S.Pd
Plt.Sapra/Humas& Koord.TU : Oni Ravindra, S.HI
Guru-guru / Tenaga Adm. : Pada tabel 1

Tabel 1
Daftar Nama Guru Dan Tenaga Administrasi
SMP Al-Muslimin Pandan Tahun Pelajaran 2007/2008
No Nama Status Asal Unit Kerja
1 Mishan, S.Pd GTY PNS di SMA Plus Matauli
2 Rahmat Widodo, S.Pd GTY PNS di SMA Plus Matauli
3 Sumaryadi, S.Pd GTY PNS di SMA Plus Matauli
4 Subaryanto, S. Pd GTT PNS di SMA Plus Matauli
5 Agus Triwidodo, S.Pd GTT PNS di SMA Plus Matauli
6 Subadi, S.Pd GTT PNS di SMA Plus Matauli
7 Suchrotul Wadiah, S.Pd GTT PNS di SMA Plus Matauli
8 Diah Kusneini, S.Pd GTT PNS di SMA Plus Matauli
9 Nining Y, S.Pd GTT PNS di SMA Plus Matauli
10 Ipnu Subroto, S.Pd GTT PNS di SMA Plus Matauli
11 Romauli Dalimunthe, S.Pd GTT PNS di SMA Plus Matauli
12 Hari Supianto, S.Pd GTT PNS di SMA Plus Matauli
13 M. Yusuf, S.Pd GTT PNS di SMA Plus Matauli
14 Baharuddin, S.Pd GTT PNS di SMA Plus Matauli
15 Tri Puji, S.Pd GTT PNS di SMA Plus Matauli
16 Siti Nuraisyah, S.Pd GTT PNS di SMP N 2 Pandan
17 Sri Winarty, S.Pd.I PNS PNS di SMP Al-Muslimin Pandan
18 Eny Kusrini, S,E, A-IV GTT PNS di SMP N 1 Pandan
19 Elisma Tanjung, S.Pd GTT PNS di SMP N1 Sibolga
20 Ridawarni, S.Pd GTT PNS di SMK Sibolga
21 Hikmah Sudanti, S.Pd GTT PNS di MTS Islamiyah Sibolga
22 Husna Septy, S.Pd.I PNS PNS di SMP Al-Muslimin Pandan
23 Elisa Pitri, S.Pd GTT PNS di SMK Sibolga
24 Gusni Sari Lubis, S.Pd GTT GBS di MAN Sibolga
25 Henny Sitompul, S.Pd GBS SMP Al-Muslimin Pandan
26 Anny Z. Gultom S.Pd GTY SMP Al-Muslimin Pandan
27 Syahriani Harahap, A-IV GTY SMP Al-Muslimin Pandan
28 Husnitin Zega, S.Pd GTY SMP Al-Muslimin Pandan
29 Oni Ravindra, S.HI GTY SMP Al-Muslimin Pandan
30 Amraini Koto, S.Ag GTY SMP Al-Muslimin Pandan
31 Hayati, S.Pd GTY SMP Al-Muslimin Pandan
32 Saleha Nani Jusnidar, S.Pd GTY SMP Al-Muslimin Pandan
33 Asriana, S.Pd.I GTT SMP Al-Muslimin Pandan
34 Hermalinda, S.Pd GTY SMP Al-Muslimin Pandan
35 Rahmadin Mardatillah GTT SMP Al-Muslimin Pandan
36 Hidayati, S.Pd GTT SMP Al-Muslimin Pandan
37 Oktafianti, A.Md GTT SMP Al-Muslimin Pandan
38 Ishak, A.Ma GTY SMP Al-Muslimin Pandan
39 Nurian Lubis PTY SMP Al-Muslimin Pandan
40 Sahala Pasaribu PTY SMP Al-Muslimin Pandan
41 Rico Kusnandar, A.Ma GTY SMP Al-Muslimin Pandan
42 Darhana Pulungan, A.Ma GTY SMP Al-Muslimin Pandan
4. Data Keadaan Siswa SMP Al-Muslimin Pandan Tahun Pelajaan 2007/2008

Tabel 2
Data kedaan siswa SMP Al-Muslimin Pandan
Tahun Pelajaran 2007/2008

NO. KELAS LAKI-LAKI PEREMPUAN JUMLAH
1. VII-1 20 17 37
2. VII-2 22 16 38
3. VII-3 20 19 39
4. VIII-1 18 20 38
5. VIII-2 17 19 36
6. VIII-3 13 25 38
7. IX-1 18 13 31
8. IX-2 24 12 36
9. IX-3 13 25 38
JUMLAH 165 166 331

5. Sarana dan Prasarana SMP Al-Muslimin Pandan Tahun Pelajaran 2007/2008
Tabel 3
Sarana dan Prasarana
SMP Al-Muslimin Pandan Tahun Pelajaran 2007/2008
NO. JENIS BARANG / INVENTARIS JUMLAH KET.
1. Ruang Kepala Sekolah 1
2. Ruang Wakil Kepala Sekolah 2
3. Ruang Tenaga Administrasi 1
4. Ruang Guru 1
5. Kelas 9
6. Perpustakaan 1
7. Lab. Komputer / Ruangan Internet 1
8. Ruang Multimedia 1
9. Masjid 1
10. Kantin 1
11. Lapangan Volly 1
12. Lapangan Basket 1
JUMLAH 21

Adapun alasan penulis memilih lokasi tersebut karena alasan-alasan sebagai berikut : Atas dasar kemudahan, keterbatasan tenaga yang ada dalam penyelesaian skripsi ini, sehingga dalam pengumpulan data dan informasi yang dibutuhkan dalam penelitian ini dapat lebih mudah diperoleh dan lebih terjamin kevalidannya.

B. Jenis Penelitian
Jenis Penelitian yang dilakukan peneliti dalam hal ini adalah penelitian kuantitatif yaitu mengarahkan untuk menjawab rumusan masalah atau menguji hipotesis yang telah dirumuskan.
Dengan melihat presentase siswa dalam proses pembelajaran khususnya kelas VIII, sehingga peneliti menggunakan metode memilih kelas (metode classter) yang sama prestasi dan daya serap siswa. Sampling Insidental yaitu teknik penentuan sampel berdasarkan kebetulan, yaitu sesuai dengan kebutuhan bahan penelitian yang ada dengan cara melihat sampel yang ada.
Sesuai judul penelitian yang diteliti dan jenis penelitian dapat diarahkan kepada hipotesis komparatif, yaitu membandingkan dua variabel antara metode pengajaran liquid cristal display dengan metode pengajaran konvensional

C. Populasi dan Sampel Penelitian
1. Populasi
Populasi adalah seluruh subjek atau objek yang menjadi sasaran peneliti Adapun populasi penelitian adalah keseluruhan subjek penelitian sebagai sumber data, atau responden yaitu orang yang merespon atau menjawab pertanyaan-pertanyaan peneliti, baik pertanyaan tertulis maupun tidak tertulis. Sedangkan sampel dari penelitian ini sebagaimana dinyatakan oleh Suharsimi Arikunto, sebagai langkah penelitian awal, maka apabila subjeknya kurang dari seratus, lebih baik diambil semuanya sehingga penelitiannya merupakan penelitian populasi. Selanjutnya jika jumlah subjeknya besar dapat diambil di antara 10 – 15 % atau 20 – 25 % atau lebih.
Tabel 4
Populasi Penelitian
NO. KELAS LAKI-LAKI PEREMPUAN JUMLAH
4. VIII-1 18 20 38
5. VIII-2 17 19 36
6. VIII-3 13 25 38
JUMLAH 58 64 112

2. Sampel
Sampel adalah sebagian dari objek yang dianggap dapat mewakili atau representative dari keseluruhan populasi. Sampel penelitian yang diteliti oleh penulis adalah sebahagian atau wakil populasi yang diteliti, yang menjadi populasi ini adalah siswa kelas VIII (delapan) yang berjumlah 112 orang, sedangkan sampel dalam penelitian ini adalah 2 lokal yaitu kelas VIII – 1 ( 38 orang) dan VIII – 2 (36 Orang) yang berjumlah 74 orang sebagai mewakili populasi.
Adapun penetapan sampel adalah berdasarkan metode classter yaitu berdasarkan kelas yang sama kedudukan, yang tidak diunggulkan, tetapi daya serap siswa sama. Hal ini dilakukan agar siswa yang terdapat dalam kelas yang ada mempunyai peluang yang sama untuk dijadikan sebagai sampel penelitian, didasarkan atas keseimbangan siswa dalam memperoleh prestasi belajar dan tidak termasuk kepada lokal unggulan.
Tabel 5
Sampel Penelitian
NO. KELAS LAKI-LAKI PEREMPUAN JUMLAH
1. VIII-1 18 20 38
2. VIII-2 17 19 36
JUMLAH 35 39 74

D. Instrumen Penelitian
Instrumen penelitian adalah alat yang digunakan untuk memperoleh data yang diinginkan. Instrumen yang digunakan dapat berupa hasil ujian tes, observasi dan wawancara. Instrumen yang digunakan untuk mengukur perbandingan prestasi belajar dalam proses pengajaran memakai media pembelajaran liquid cristal display dengan pengajaran konvensional pada mata pelajaran Pendidikan Agama Islam, adalah dengan cara peneliti mengajar langsung pada mata pelajaran Pendidikan Agama Islam dalam topik pengajaran ”Bertata Krama dalam Pergaulan sehari-hari.”, dan akhir dari topik pengajaran peneliti memberikan soal kepada siswa untuk memperoleh hasil perbandingan prestasi belajar dari pembelajaran.

E. Teknik Pengumpulan Data
Dalam pengumpulan data dilakukan dengan mengajar dalam ruangan belajar secara langsung kepada siswa serta diakhir pembelajaran diadakan tes dengan memberikan soal sesuai dengan topik yang diajarkan.
Test Soal, teknik ini dilakukan dengan cara penyebaran soal atau pertanyaan pada seluruh responden sebagai sample objek penelitian. Jumlah pertanyaan disesuaikan berdasarkan indikator yang telah ditetapkan.

F. Analisa Data
Setelah data tersebut terkumpul, kemudian secara keseluruhan menganalisa data serta penarikan kesimpulan dari tiap-tiap materi yang disampaikan digunakan metode induktif dan deduktif, sehingga hasil data tersebut dapat dinilai obyektif, maka selanjutnya data dan informasi tersebut dianalisa. Menurut Sumadi Suryabrata dijelaskan bahwa : ”Menganalisa data merupakan suatu langkah yang sangat kritis dalam penelitian. Penelitian harus memastikan pola analisis statistik ataukah non statistik.
Data yang sudah dikumpul dari responden diolah dan dianalisa dengan menggunakan perbandingan. Analisis yang dilakukan adalah untuk mengetahui bagaimana perbandingan prestasi belajar dalam proses pengajaran memakai media pembelajaran liquid cristal display dengan pengajaran konvensional pada mata pelajaran Pendidikan Agama Islam.
Sebagai alat pengukurnya dalam pengajaran dapat langsung diuji coba, setelah divalidasi dan revisi, dengan tujuan untuk mendapatkan apakah ada perbedaan prestasi belajar siswa dalam pembelajaran, antara metode pengajaran konvensial dengan metode pengajaran yang memakai media liquid cristal display, sehingga lebih efektif dan efisien.

Untuk itu pengujian dapat dilakukan dengan membandingkan efektivitas metode pengajaran konvensional dengan metode pengajaran memakai media liquid cristal display. Indikatornya efektivitas metode pengajaran memakai media liquid cristal display adalah, kecepatan pemahaman murid pada pelajaran lebih tinggi, murid bertambah kreatif dan hasil belajar meningkat
Dari penjelasan tersebut di atas, maka untuk keperluan analisis data dan informasi dari penelitian ini penulis menentukan analisa statistik dengan menggunakan rumus statistik t-tes sampel related dengan rumus yang sudah diuraikan terdahulu.
Untuk membuktikan signifikansi perbandingan tersebut dapat dilakukan dengan menggunakan rumus yang dipakai dalam penelitian , yaitu :
t =
Dimana :
X 1 : Rata-rata sampel 1 ( pengajaran konvensional)
X 2 : Rata-rata sampel 2 (pengajaran memakai liquid cristal display)
s 1 : Simpangan baku sampel 1 ( pengajaran konvensional)
s 2 : Simpangan baku sampel 2 (pengajaran memakai liquid cristal display)
: Varian sample 1
S : Varian sample 2
r : Korelasi antara data dua kelompok

Kemudian untuk mendukung hasil dari pengujian dengan menggunakan rumus tersebut, penulis juga melakukan penyebaran soal test, agar mempermudah perbandingan prestasi belajar yang didapat oleh siswa dari setiap sampel dari populasi penelitian kelas, yaitu dengan pengukuran sebagai berikut :
X = X1 : X 2
S = X1 : X 2
S2 = X1 : X 2
r = X1 : X 2
Keterangan :
X 1 : Pengajaran Konvensional
X 2 : Pengajaran memakai liquid cristal display

Dan untuk Kategori dalam penelitian terhadap soal dapat ditentukan melalui skala nilai yang diperoleh yaitu, sebagai berikut :
Tabel 6
Skala Penilian dalam Penelitian
No Skala Keterangan
1. 1 – 20 Sangat tidak baik
2. 21 – 40 Tidak baik
3. 41 – 60 Cukup
4. 61 – 80 Baik
5. 81 – 100 Amat baik

BAB V
PENUTUP

A. Kesimpulan
Berdasarkan uraian hasil analisis dan evaluasi pada bab IV maka peneliti menarik kesimpulan sebagai berikut :
1. Terdapat perbandingan prestasi belajar siswa pada pengajaran konvensial dengan pengajaran memakai media pembelajaran liquid cristal display pada mata pelajaran pendidikan agama Islam Kelas VIII SMP Al-Muslimin Pandan
2. Efektifitas metode liquid cristal display lebih baik dari metode konvensional, serta daya serap terhadap bahan pengajaran yang diajarkan mencapai prestasi tinggi, baik secara individual maupun kelompok
3. Metode mengajar dengan liquid cristal display dapat memberikan kecepatan pemahaman murid terhadap materi yang ada
4. Prestasi Belajar siswa akan lebih meningkat dengan pemakaian metode liquid cristal display.

B. Saran
Berdasarkan hasil analisis dan kesimpulan penelitian, diajukan beberapa saran sebagai berikut :
1. Berdasarkan hasil analisis dan evaluasi diketahui bahwa daya serap anak-anak terhadap pengajaran dengan menggunakan media pembelajaran liquid crystal display, Indikatornya adalah, kecepatan pemahaman murid pada pelajaran lebih tinggi, murid bertambah kreatif dan hasil belajar meningkat, maka diharapkan setiap guru dapat memberikan pengajaran dengan menggunakan media pembelajaran liquid crystal display
2. Setelah adanya penelitian ini dapat sebagai acuan bagi setiap guru ataupun pihak-pihak yang terkait, untuk adanya perubahan dalam proses belajar dan mengajar

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: